Kabar Baik beserta kita untuk Anda semua.....

KOTEKA (KOMUNITAS TENTARA KERAJAAN ALLAH )HENDAKLAH TERANGMU BERCAHAYA DI TEMPAT KEGELAPAN

Rabu, 15 Februari 2012

JANGANLAH KAMU MABUK OLEH ANGGUR


Baca: Efesus 5:15-21

Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh ... (Efesus 5:18)


Bacaan Alkitab Setahun:
Imamat 8-10


Perkelahian dan keributan di pertunjukan musik menjadi berita yang sangat sering diliput media massa. Penyebabnya biasanya sangat sepele, yaitu saling senggol atau saling ejek. Namun, pemicu utamanya adalah karena mereka disinyalir berada di bawah pengaruh minuman keras. Minuman itu membuat mereka tidak mampu menguasai diri dan mudah melakukan tindakan di luar kendali.

Memang terasa agak aneh ketika perintah jangan mabuk oleh anggur dikontraskan dengan dipenuhi Roh Kudus (ayat 18). Namun, keduanya memang memiliki pokok pikiran yang mirip, yaitu: sama-sama dikuasai oleh sesuatu. Orang yang berada dibawah kuasa atau pengaruh anggur biasanya tidak dapat menguasai dirinya. Perkataan dan tindakannya akan kacau dan menimbulkan kekacauan. Sedangkan orang yang dikuasai atau dipenuhi Roh Kudus akan makin dapat menguasai diri. Ia akan mampu mengelola hidupnya dengan baik; perkataan maupun perbuatannya akan makin selaras dengan kepribadian Allah. Ungkapan: “Hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus” dalam tatabahasa aslinya menggunakan kata kerja berbentuk imperatif plural pasif. Artinya, kita tak bisa menghindar, berlaku untuk semua orang, dan tak perlu mantra atau rumus khusus untuk mengalaminya. Ini adalah  suatu kesediaan untuk tunduk pada pimpinan Roh Kudus.

Pikiran, perkataan, dan perbuatan seperti apa yang kita tampakkan dari hidup kita selama ini? Apakah hal-hal tersebut mencerminkan kepemilikan dan kepemimpinan Allah dalam hidup kita? Dia ingin mengarahkan hidup kita untuk mengenali rencana-Nya. Izinkan Dia memimpin hidup kita dengan leluasa.—PBS
DARI BUAH HIDUP KITA, DAPAT DITEBAK SIAPA PENGUASANYA

UNTUK MEREKA YANG TERLUPAKAN

Untuk Mereka Yang Terlupakan

parfum uda merupakan kebutuhan utama dalam berpenampilan dalam beraktifitas maka itu pasar penjualannya sangat terbuka untuk semua kalangan umur. segra gabung bersama kami membuka agen parfum di kota anda. harga suplayer 150.000. harga pasar 250.000 sampai 600.000. original.... dapatkan hadiah langsung 1 buah laptop. pengiriman gratis ke kota anda. promo ini berlaku hanya bulan ini. ingat: orang sukses adalah orang yang berani mencoba. hubungi kami di: 082143568999. alamat: ketintang madya 66 surabaya.
1 Yohanes 3:16-18
Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 41; Kisah Para Rasul 13; Keluaran 31-32

Bicara soal "mereka yang terlupakan" pikiran kita langsung terbayang sekelompok masyarakat yang miskin, tidak terpelajar, pengemis, pengamen, dan semua orang berlabel "sampah masyarakat". Sikap terhadap mereka pun beragam. Ada yang acuh tak acuh, ada yang perduli dan ada yang benci. Tapi 1 Yohanes 3:16-18 mengajarkan agar kita menunjukkan kasih dengan tindakan praktis. Berikut ilustrasi tentang tindakan praktis.

Pada suatu malam seorang ibu sedang sibuk membereskan kamar tamu untuk seseorang. Melihat pemandangan yang tidak biasa itu, sang anak bertanya, "Untuk siapa ibu membereskan kamar itu?" Jawaban yang mengejutkan keluar dari mulut ibu itu. "Baru saja ayahmu memberitahu ada seorang pengemis di luar sana sedang kedinginan dan tidak punya tempat tidur".

Jelas bagi sebagian orang itu bukan sikap yang bijaksana. Mengundang pengemis yang kotor dan bau, masuk dan tidur di kamar tamu. Lukas 14:13-14 adalah alasan yang mendorong ibu itu untuk bertindak demikian, yang berbunyi, "...apabila mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta...".

Tidak jarang dalam hidup ini kita diberi kesempatan untuk menikmati kenyamanan dan kemakmuran. Setiap hari mungkin kita "berpesta" dengan segala fasilitas yang ada. Saat seperti itu, bersediakah kita mengundang mereka yang kurang beruntung?

Berikanlah kasih yang Anda miliki kepada mereka yang dilupakan.

Kamis, 09 Februari 2012

KESAKSIAN HIDUP ISTRIKU TERCINTA

Senin, 14 Januari 2008

NAMAKU NOVIE (kesaksian hidup istriku tercinta)


parfum uda merupakan kebutuhan utama dalam berpenampilan dalam beraktifitas maka itu pasar penjualannya sangat terbuka untuk semua kalangan umur. segra gabung bersama kami membuka agen parfum di kota anda. harga suplayer 150.000. harga pasar 250.000 sampai 600.000. original.... dapatkan hadiah langsung 1 buah laptop. pengiriman gratis ke kota anda. promo ini berlaku hanya bulan ini. ingat: orang sukses adalah orang yang berani mencoba. hubungi kami di: 082143568999. alamat: ketintang madya 66 surabaya.


NAMAKU NOVIE
Hai namaku, Novie Durant. Aku lahir di pulau Sumatera 30 tahun yang lalu. Kurasa semua orang mendambakan untuk terlahir di dalam sebuah keluarga yang bahagia dan sempurna. Namun pada kenyataannya tidak semua keluarga hidup bahagia. Sebab kehidupan adalah kenyataan dan bukanlah cerita dongeng. Kuingin membagikan kisah hidupku yang penuh liku dan kerikil tajam.
Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga pelaut. Pada saat aku lahir, papa tidak ada sebab sedang berlayar. Saat aku beranjak mencapai usia 2 tahun, papa baru pulang untuk melihat putri pertamanya. Sangat kurindukan pelukan dan perhatian dari seorang ayah yang penuh kasih, namun hal itu tidak pernah kudapatkan sebab ia harus berlayar ke negeri seberang. Hingga hubungan kami renggang, ia pun mengalami kesulitan di dalam berkomunikasi baik dengan diriku maupun adik lelakiku. Sebagaimana kebanyakan pelaut lainnya, ayahku memiliki kebiasaan buruk yang sama yaitu bermabuk-mabukkan.
Aku sering mengalami ketakutan bila melihat papa sedang mabuk, terlebih bila ia sedang marah. Tanpa sadar itu sangat melukai diriku dan merusak figur seorang pria secara keseluruhan di mataku.
Saat papa berlayar, keadaan ekonomi kami sangat baik. Kami biasa menolong keluarga dalam hal pendidikan dan usaha mereka maupun tetangga di lingkungan kami tinggal. Aku biasa mengenakan pakaian baru setiap kali papa pulang berlayar dari luar negeri. Sudah tradisi setiap akhir pekan kami akan pergi makan bersama di restoran. Kehidupan yang layak dan mapan telah kami jalani. Sampai suatu hari papa dijebak oleh salah seorang rekannya hingga ia sangat terpukul oleh peristiwa itu. Papaku dituduh sebagai penyelundup barang import. Papa dan mami meninggalkan kami ke Pulau Jawa. Sedang aku dan adik tetap tinggal di kota kelahiran. Kami dibesarkan di rumah keluarga mami. Dari keadaan ekonomi yang berlimpah-limpah, kini kami harus tinggal di rumah saudara. Demi sekolah dan kebutuhan sehari-hari, kami harus bekerja membereskan rumah dan aku memberikan les pada anak-anak di lingkungan kami tinggal untuk uang tambahan. Harga diri kami tercabik-cabik, keputusasaan, ketakutan, kecemasan dan kekuatiran menguasai pikiran dan hati. Terlebih saat aku mengalami pelecehan seksual, kebencian dan perasaan tidak percaya pada kaum pria bertambah besar.
Adakah masa depan bagi kami? Mengapa orang-orang yang dahulu papa dan mami bantu malah mencibir kami? Sia-siakah perhatian dan pertolongan keluarga kami dulu? Tidak adakah orang yang mengingat kebaikan yang telah keluargaku tabur? Aku sangat terluka saat itu, seolah-olah harga diriku runtuh. Dulu aku biasa mentraktir teman-temanku, kini aku ditraktir oleh mereka. Rasanya aneh dan sulit rasanya menerima keadaan ini. Namun itulah kehidupan yang harus aku lalui, berat dan perih tapi inilah jalan yang harus kulalui. Ketika sahabat-sahabatku terlibat pergaulan seks bebas dan bermabuk-mabukkan, aku tetap berpegang pada prinsip hidup yang kupercayai, yaitu aku tidak mau merusak diriku. Prestasi belajar di sekolah pun aku pertahankan,ketika anak lain yang frustasi membolos sekolah, aku tetap berprestasi dalam pendidikan. Orang-orang mengatakan,” Lihat si Novie, paling-paling sebentar lagi akan rusak sebab Papanya saja seperti itu.” Sudah cukup orang mencibir papa dan mami, aku ingin membuktikan bahwa keluarga kami tidak seperti itu.
Saat kuberanjak SMA, aku pindah ke Jakarta dan untuk pertama kalinya bersatu kembali dengan Papa dan Mami. Semenjak peristiwa yang menimpa Papa di Belawan, ia sulit untuk dapat bangkit kembali baik dalam pekerjaan dan usaha. Rasa kecewa dan terluka akibat dikhianati teman baiknya menyelimuti relung hatinya, yang membuat ia makin terbelenggu dalam kebiasaan buruknya bermabuk-mabukkan. Hingga ia sulit untuk dapat menjadi produktif lagi. Kulihat Mami dalam kondisi yang sulit sekali pun, ia tetap setia mendampingi Papa dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Aku pindah ke Jakarta sebab salah seorang tanteku mengatakan bahwa aku akan dibiayai olehnya selama mengikuti pendidikan. Memang hal itu terjadi sampai aku duduk di bangku kelas 3 SMA, dimana ia menolak untuk membiayaiku. Aku tidak mampu membeli buku sekolah dan bila hendak ulangan terpaksa belajar di rumah teman agar dapat mempelajari bahan ulangan besok. Sedih sekali rasanya hidup yang harus kulalui ini, aku sangat iri melihat teman-teman hidup dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Aku kadang merasa marah melihat anak-anak yang memiliki orangtua yang mapan namun tidak pernah serius belajar dan hanya hidup hura-hura. Meski hidup-ku sulit dan godaan teman-teman untuk “rusak” di ibukota sebagai jalan keluar cepat mencari uang ada di depan mata namun aku menolaknya, sebab aku ingin membuktikan bahwa aku dapat hidup lurus dan menjadi kebanggaan bagi keluarga-ku. Pada akhirnya aku dapat lulus SMA meski kondisi kami sulit saat itu. Namun tante-ku yang berjanji membiayai studiku menolak untuk membayar SPP-ku selama setahun dan menyuruh Papa untuk membayar semua biaya tersebut. Padahal saat itu, ia tahu bahwa Papa belum memiliki pekerjaan tetap dan bekerja serabutan. Walhasil, aku lulus SMA tapi tidak memiliki ijazah dan pupus sudah cita-citaku untuk kuliah psikologi dan mendalami pendidikan anak. Semuanya seolah hanya impian di siang bolong saja. Sempat aku kecewa dan marah pada sikap tante-ku, dulu sebelum mereka berhasil dan sukses, Papa membiayai hidup mereka bahkan membiayai kuliah om-ku. Kini ketika kami butuh pertolongan, mereka seolah melihat kami ini pengemis saja. Semudah itukah manusia lupa?
Akhirnya kami mengadu nasib di kota Pahlawan, Surabaya. Setelah sebelumnya Papa menjemput adik-ku di Sumatera, akhirnya kami bersatu kembali sebagai keluarga yang utuh meski dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu. Di kota Surabaya, kami berempat kost di sebuah kamar berukuran 3 x 3, di sebuah daerah perumahan padat dekat pelabuhan Perak. Meski kondisi ekonomi tidak kunjung membaik namun paling tidak di sini papa dan adik-ku mendapatkan pekerjaan sebagai pelaut kembali. Di daerah baru ini aku memiliki dua orang teman baik, mereka berdua acap kali mengajak-ku untuk mengikuti sebuah persekutuan doa, Youth Christian Center. Pada mulanya aku tidak tertarik dan acap kali sakit bila hendak pergi namun karena terus menerus mereka mengajak, akhirnya hatiku luluh dan mengikuti ibadah di sana. Saat itulah aku mulai dijamah oleh Tuhan, hatiku yang selama ini keras oleh tempaan hidup dan terluka sangat dalam mulai dipulihkan oleh Bapa Surgawi yang penuh kasih. Sedikit demi sedikit kekerasan hati dan luka-luka mulai disingkapkan dan dipulihkan. Persekutuan yang erat dan perhatian yang tulus kurasakan dalam komunitas itu. Aku merasa berharga dan dapat menjadi diriku sendiri tanpa dihakimi, dalam persekutuan inilah kurasakan apa yang dinamakan keluarga dalam Kristus yang sebenarnya. Dalam persekutuan itulah awal aku mengalami Kristus dan lahir baru.
Saat itulah aku mengalami kelepasan dari belenggu kutuk nenek moyang. Ini merupakan kesaksianku yang lain. Saat aku lahir, orang percaya bahwa aku memiliki keistimewaan sebab saat lahir sudah tumbuh dua gigi seri. Dari latar belakang papa yang mempercayai kuasa gelap dan juga nenek moyang mami yang terlibat okultisme membuat mereka mempercayai hal tersebut. Konon nenek moyang Mami merupakan “orang pintar” pada masa Sisingamangaraja. Sejak kecil aku sudah dapat melihat roh-roh jahat dan berkomunikasi dengan mereka. Keluargaku menganggap bahwa hal itu adalah anugerah dari Tuhan untuk menolong orang lain dan mengetahui masa depan. Ada anggota keluargaku yang membawa aku ke tempat beberapa paranormal, untuk meyakinkan keluarga dan diriku bahwa aku memiliki “kelebihan”. Aku tidak pernah mencari ilmu seperti paranormal pada umumnya namun roh-roh jahat itu datang, berkomunikasi dan membuat perjanjian denganku. Melalui kuasa roh-roh itu, aku dapat menyembuh mereka yang sakit, mencari barang yang hilang, menjadi medium, meramalkan masa depan, dan lain-lain. Namun setiap kali aku menjadi “alat” mereka, aku langsung sakit sesudahnya. Ada rasa takut juga dalam diriku, sebab tiap kali aku marah terhadap seseorang, pasti orang tersebut jatuh sakit atau bila ada orang yang telah kulayani ingkar janji padaku maka orang tersebut mengalami bencana.
Dalam persekutuan doa itulah Tuhan mulai menjamah, menyadarkan dan memerdekakan aku dari setiap belenggu dosa nenek moyang dan dilayani kelepasan. Aku sadar bahwa ini merupakan dosa nenek moyang, yang perlu aku akui dihadapan Tuhan meminta ampun atas apa yang telah dilakukan oleh nenek moyangku dan memutuskan rantai perhambaan itu selamanya.
Dari Persekutuan ini akhirnya aku diutus untuk mengikuti pendidikan PLHK di Bali Bible Training Center yang memperlengkapi aku lebih lagi dalam pengenalan akan Tuhan dan pekerjaan Tuhan.
Hati-ku sempat tertutup bagi pria sebab aku mengalami trauma terhadap sikap Papa yang kaku selama ini dan kebiasaan buruknya, plus pengalaman mengalami pelecehan seksual saat kecil. Sempat terbersit dalam benakku untuk menjadi biarawati gereja Katholik saja dan tidak perlu menikah. Namun setelah aku mengalami pemulihan yang dikerjakan Tuhan, hatiku yang dulu tertutup bagi pria mulai terbuka kembali.
Setelah mengalami pemulihan dan kelepasan itu rasa haus dan lapar akan Tuhan meliputi dalam diriku mendorong aku untuk lebih aktif di persekutuan. Saat itulah Tuhan mulai berbicara mengenai siapa calon pasangan hidupku. Ada perasaan aneh dan tidak percaya. Sampai suatu sore, dalam salah satu ibadah yang diadakan, sang pembicara menyampaikan khotbah dengan topik Kerendahan Hati dan diakhiri dengan pembasuhan kaki. Saat itu si pembicara menyatakan bahwa kami perlu berdoa terlebih dulu dan bertanya pada Tuhan siapa yang harus kami basuh kakinya. Saat kuberdoa ada sebuah instruksi yang sangat jelas bagiku untuk membasuh kaki ketua Persekutuan Doa tetapi tidak dengan handuk dan air di baskom, tetapi dengan tetesan air mata dan rambutku. Ada perasaan takut, bagaimana kata yang lain dan mengapa hanya padanya saja dan tidak yang lain. Namun aku memilih untuk taat saat itu, hatiku dijamah olehNya dan mentaati apa yang Tuhan perintahkan. Dikemudian hari baru kutahu bahwa pada tahun 1993, ketua PD kami saat itu berdoa dan Tuhan menyatakan bahwa Ia akan memberikan pasangan hidup baginya. Dan salah satu tandanya adalah wanita itu akan membasuh kakinya dengan tetesan air mata dan uraian rambut panjang sebagai kain lapnya. Hingga saat aku membasuh kakinya, Tuhan mengingatkan janjiNya itu.
Perjalanan memasuki hubungan penjajakan kami tidaklah mudah, berulang kali aku mau mundur dari hubungan tersebut. Sebab banyak orang mengatakan aku tidak layak membina hubungan dengan ketua PD sebab aku baru bertobat sedang ia sudah lama pelayanan, ada pula yang mengatakan aku memelet ketua PD dan lain-lain. Aku sedih mendengar pernyataan orang-orang tersebut namun ada pula yang menguatkan aku dengan menyatakan bila memang ini kehendak Tuhan, semuanya pasti akan dapat dilalui. Dan yang terpenting calon pasanganku saat itu, tetap percaya bahwa diriku adalah pasangan hidupnya.
Akhirnya ia menjadi pasangan hidupku, namanya Dave Broos. Kami membina hubungan selama setahun dan lalu menikah pada bulan Agustus 1999 di Surabaya. Kami diberkati di GKB Shalloom – Surabaya, oleh Pdt. Yohanes Thomas.
Akhirnya persekutuan doa yang selama ini dirintis suamiku, menjadi sebuah gereja, GKB Cinta Kasih Bangsa (Indonesian Christian Center) dan suamiku menjadi pendeta gembala sidang. Tidak pernah terpikirkan olehku akan menikah dengan seorang gembala sidang dan menjadi ibu gembala namun itulah Tuhan kita yang sering membuat surprise. Setelah menikah aku mengikuti kuliah jarak jauh yang diadakan Seminari Bethel – Jakarta, yaitu Sekolah Theologia Extention (STE) untuk program D-3. Akhirnya aku dapat kuliah meskipun bukan di bidang yang kurindukan namun kumengucapkan syukur atas kesempatan yang terbuka. Melalui sekolah tersebut aku bertumbuh lebih berakar dalam Firman Tuhan di dalam menopang pelayanan suamiku, terutama sebagai pendoa syafaat dan konselor.
Tuhan kembali mengingatkanku akan apa yang telah terjadi dalam hubunganku dengan papa. Setelah aku mengalami pemulihan aku tersadar bahwa sikap papa yang keras dan kaku adalah akibat opa-ku. Beliau adalah seorang anggota polisi yang terhormat di Sulawesi Utara, terkenal sangat disiplin dan keras baik terhadap anak kandungnya maupun anak-anak angkatnya. Papa mungkin seorang pemabuk namun bila kuingat kembali sebenarnya ia penuh perhatian baik padaku maupun adik. Hanya akibat sifat buruknya yang dulu menjadi fokus perhatianku, aku tidak dapat melihat sisi-sisi dirinya yang baik bagi keluarga kami.
Bukan hanya aku saja yang diselamatkan, namun Tuhan mulai menjamah orangtua maupun adikku. Saat adikku “tertinggal” di Sumatera dan hidup dengan Opung, ia terlibat pergaulan yang salah dan menjadi pengedar narkoba. Ia menjadi anggota geng pengedar ganja. Namun setelah melihat perubahan dalam hidupku dan berbincang dengan suamiku yang dulunya juga mantan anak geng di kota Bandung dan pecandu, ia pun mulai berubah. Perubahan yang nampak jelas adalah ia mulai berhenti mabuk-mabukkan dan bergaul dengan teman yang salah. Begitu juga dengan kedua orangtuaku yang berubah, Papa pun akhirnya berhenti mabuk dan memusnahkan semua opo-opo(barang bertuah) yang ia miliki. Semenjak itu hubunganku dengan papa dipulihkan, sungguh bahagianya kini aku memiliki ayah yang baru. Mami yang dulu suka berjudi sebagai pelariannya pun kini bertobat dan berhenti total. Semuanya hanya bisa terjadi oleh karena Kuasa Tuhan yang penuh kemurahan dan limpah kasih.
Hadiah terbesar bagi kami adalah kelahiran putra kami, Philip Broos. Ia adalah anak penghiburan kami di ladang pelayanan. Banyak orang memprediksikan bahwa aku akan sulit hamil karena kondisi kesehatanku namun Tuhan mementahkan semua prediksi orang. Dan hal itu sangat membahagiakan diri keluarga kami. Apa yang manusia katakan mustahil dimentahkan oleh Tuhan kita yang penuh mujizat. Ada banyak hal yang Tuhan lakukan bagi keluarga kami. Saat dokter kami menyatakan bahwa putra kami terbelit tali pusernya hingga aku harus dioperasi cesar padahal sudah bukaan 6. Saat keuangan kami hanya cukup untuk biaya persalinan normal. Rasa takut untuk dioperasi maupun biaya yang harus ditanggung membayangi pikiranku. Siapa yang akan menolong kami, sebab jemaat yang kami gembalakan hanyalah orang kalangan bawah. Hanya pada Tuhan kami bersandar dan percaya. Barangsiapa percaya pada Tuhan tidak akan pernah dipermalukan, itulah janjiNya. Beberapa hari setelah kelahiran putra kami, Tuhan memakai seseorang untuk melunasi semua biaya persalinan dan bukan itu saja, ada uang lebih bagi kebutuhan keluarga kami.
Setelah 7 tahun merintis pelayanan dan menggembalakan sidang, Tuhan mulai mendorong kami untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan pelayanan gereja pada anak-anak rohani yang telah kami muridkan selama ini. Pada tahun 2005, suamiku mengundurkan diri dari pelayanan penggembalaan dan mempersiapkan diri kami sekeluarga untuk memulai pelayanan di kota Bandung.
Saat itu aku tengah mengandung anak kedua kami. Dokter memprediksikan bahwa bayi kami adalah perempuan dan suamiku telah menyiapkan nama Regina bagi putri kami. Putraku, Philip sangat antusias menyambut kelahiran adiknya. Ia telah menyiapkan boks bayi dan boneka-boneka bagi adiknya. Ia sudah membayangkan akan bermain dengan adiknya, di TK ia dengan bangga menceritakan pada teman-temannya bahwa sebentar lagi ia akan punya adik.
Saat kami tengah berjalan-jalan di sebuah mall, tiba-tiba aku merasa waktu persalinan telah tiba. Segera kuberitahu suamiku dan kami bergegas menuju rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit ternyata bayi kami sungsang dan kembali aku harus dioperasi cesar. Namun karena tekanan darahku tinggi maka operasi akan dilakukan keesokan harinya.
Ada perasaan berbeda saat ini, perasaan ini berbeda dari saat menghadapi operasi cesarku yang pertama, ada rasa was-was seperti akan mati. Saat operasi dilangsungkan aku melihat wajah cemas dari para perawat maupun dokter. Ketika putriku lahir, kulihat dokter segera membawa putriku ke ruangan lain. Hatiku cemas, kondisi tubuhku saat itu menurun, semuanya mulai menjadi gelap kudengar salah satu suster berbisik di telingaku, “ Ibu sadar ya, ingat suami dan anaknya di luar.” Tiba-tiba terbayang wajah suami dan putraku yang terlihat sedih. Apakah aku akan mati? Segera aku coba untuk tetap tersadar, aku tidak mau mati meninggalkan keluargaku, mereka masih membutuhkanku.
Setelah kusadar, aku sudah ada di ruang pasien, di sana ada mami yang duduk menungguiku, wajahnya tampak lesu. Lalu aku bertanya,”Kenapa, Mi?” Mami menjawab,”Engga apa-apa.” Aku mulai curiga ada apa ini tapi semuanya coba kutepis. Lalu aku berbicara lagi,”Mi, nanti sepulang dari sini, kita belanja baju bayi di pasar Turi ya?” Mami hanya terdiam dan matanya berkaca-kaca. Saat itulah putraku, Philip masuk kamar. Kupandang Philip dan bertanya,” Phil, kamu senang punya adik sekarang?” Ia menjawab dengan polos dan sedih,” Apa, Ma, adik Philip khan sudah mati.” Kusela jawaban Philip,”Phil, kamu tidak boleh berbicara begitu tentang adikmu.” Kupandang suamiku berdiri di muka pintu dengan pandangan kuyu, ada apa dengan suamiku yang biasanya ceria. Ia memandangku dan lalu memelukku,” Ma, Regina sudah tidak ada dengan kita.” Seketika itu juga aku meledak dalam tangisku, kesedihan memenuhi hatiku. “Mengapa Tuhan?”
Sehari setelah penguburan putri kami, Regina, aku baru tahu bahwa putri kami meninggal akibat praeklamsi. Putri kami hidup sejam sebelum ia pulang ke Rumah Bapa. Ada kesedihan, ada pertanyaan, ada kekosongan namun semua kuserahkan pada Tuhan. Kami mengucap syukur atas satu jam yang Tuhan percayakan bagi kami sebagai orangtua bagi Regina. Di balik segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, ada hikmahnya dimana kita bisa belajar dariNya.
Di kala awan mendung kesedihan melanda keluarga kami, Tuhan memakai saudara-saudara seiman kami di Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya yang digembalakan Penatua Johanes Harjanto, sebagai tempat kami dipulihkan Tuhan kembali dan mematangkan rencana kami kembali untuk melayani di kota Bandung.
Pada saat persiapan kami merasa mantap untuk pindah namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kami akan pindah sebab kami sudah tidak memiliki uang tabungan untuk pindah ke kota Bandung. Kepindahan kami pada bulan Juni 2007 sudah mendekat namun uang tidak ada. Hingga kami bertanya-tanya, apakah benar kami mendapat perintah Tuhan atau ini hanya gagasan baik kami saja. Kembali lagi Tuhan melakukan suatu kejutan bagi kami, sebulan sebelum kepindahan kami, salah seorang sahabat suamiku memberikan berkat. Hingga kami dapat pindah ke kota Bandung, mengontrak tempat tinggal dan memasukkan putra kami sekolah di SDK Baptis.
Kini kami sudah berada di kota Bandung dan tengah merintis pelayanan The Eagles Nest Ministries. Kami tidak memiliki aset, atau kehebatan apa pun namun kami memiliki hati untuk melayani Yesus Kristus dan itu sudah cukup bagi kami. Tuhan memberikan hatiNya yang limpah dengan kasih bagi kami dan sebagaimana Ia telah memulihkan kami, kerinduan kami adalah melihat setiap jiwa mengalami pemulihan dan mengerti jati diri mereka dalam Kristus.
Aku tahu di luar sana, ada begitu banyak jiwa yang terluka terutama para wanita yang belum mengalami pemulihan. Doa dan kerinduan hatiku, melihat tiap wanita dalam Kristus mengalami breakthrough dalam hidupnya.
Sebagaimana Tuhan telah memulihkanku, Ia pasti akan memulihkanmu juga sebab di dalam Kerajaan Surga tidak ada “anak emas”. God bless you, all.
Anda ingin sharing, didoakan atau kami layani silahkan hubungi kami di 081330135643(tlp/sms) atau novie_durant@yahoo.com. Kami ingin menjadi sahabat dan saudara dalam suka maupun duka. WE CARE.

KESAKSIAN HIDUP MAMA SAYA

Kesaksian Hidup Mama Saya

Keluargaku adalah keluarga yang bukan kristen, bahkan orang tuaku sangat benci dengan orang kristen. Mereka beranggapan bahwa orang kristen adalah orang yang tidak baik moralnya misalnya hamil diluar nikah, hutang tidak mau membayar dan perbuatan-perbuatan yang tidak baik lainnya.
Terlebih orang tuaku saat itu merupakan orang yang berada di desaku, menyebabkan orang tuaku tinggi hati.
Kesombongan hati mereka mulai pudar setelah mereka mengalami berbagai musibah.
Musibah pertama kala itu datang, ketika orang tuaku dirampok habis-habisan yang menyebabkan hartanya berkurang. Kemudian anak-anak mereka meninggal dunia karena penyakit. Dalam satu minggu dua orang anak laki-lakinya meninggal. Hancur luluh hati mereka. Pada saat yang menyedihkan itu ada beberapa orang kristen yang datang menghibur, tetapi dasar tidak senang maka tidak membuat hati mereka bergeming.
Kesusahan demi kesusahan datang silih berganti, sampai kesusahan yang besar datang yaitu rumah kami terbakar habis. Ludes sudah semua milik kami.
Kami mengungsi dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Sedang untuk makannya kami makan seadanya. Kadang kami makan nasi jagung, nasi tiwul (gaplek), pisang muda dan lainnya.
Suatu hari seseorang datang mengajak orang tuaku untuk datang dalam kebaktian kebangunan rohani. Ajakan itu disanggupi. Kedua orang tuaku datang dalam kebaktian itu. Anehnya malam berikutnaya kedua orang tuaku juga datang. Mereka sangat bersuka cita sambil menceritakan khotbah yang di dengarkannya setelah pulang dari KKR itu. Mereka membawa satu persatu anak-anak mereka dalam KKR itu. Selanjutnya mereka datang dalam kebaktian tiap hari minggu.
Kebaktian itu diadakan di teras depan rumah seorang anggota gereja karena belum mempunyai gereja. Karena setiap khotbah selalu terganggu dengan suara kendaraan yang lewat. Maka pada suatu kebaktian pendeta bertanya: siapakah yang rumahnya boleh di pakai untuk gereja? Orang tuaku langsung menjawab dengan angkat tangan “ Rumah kami boleh dipakai sebagai gereja“. Sejak saat itu rumah kami di pakai sebagai gereja. Rumah kami di pakai sebagai gereja mulai tahun 1948 sampai 1965“.
Kami sekeluarga akhirnya menjadi anak-anak Tuhan dan hidup dalam damai sejahtera. Kami sangat senang, meskipun kami menjadi tukang sapu maupun tukang lap kursi dan mimbar gereja tanpa menerima gaji sesen pun. Tugas itu berakhir sampai mempunyai gereja sendiri.
Itulah kesaksian hidup dari orang tuaku yang mula-mula benci dengan orang kristen akhirnya menjadi orang kristen sampai akhir hidupnya.
Karya tulis
Ibu. Elyana N.L
Jl. Pacar Kembang IV No. 44-A, Surabaya
Sektor XI

Sabtu, 04 Februari 2012

5 MENIT TELAH MENYELAMATKAN NYAWA SAYA



5 Menit telah menyelamatkan nyawa saya


parfum uda merupakan kebutuhan utama dalam berpenampilan dalam beraktifitas maka itu pasar penjualannya sangat terbuka untuk semua kalangan umur. segra gabung bersama kami membuka agen parfum di kota anda. harga suplayer 150.000. harga pasar 250.000 sampai 600.000. original.... dapatkan hadiah langsung 1 buah laptop. pengiriman gratis ke kota anda. promo ini berlaku hanya bulan ini. ingat: orang sukses adalah orang yang berani mencoba. hubungi kami di: 082143568999. alamat: ketintang madya 66 surabaya.

Shalom,saya ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman sekalian. Kejadian berawal kemarin (20 Juni) sekitar jam 10 malam saat saya mengendarai mobil dengan sepupu di daerah lampu merah ke arah Tugu Tani dari arah kebun sirih. Tiba-tiba kaca depan kiri sepupu saya yang sedang menelpon di gedor-gedor dengan pemuda yang masih belasan tahun. Kita kaget dan berteriak lalu pemuda itu meminta handphone sepupu saya. Lalu beliau sembari menunjukkan besi di perutnya, dan langsung tiba-tiba menghantam kaca depan mobil saya. Perasaan saya hanya bisa melihat kaca mobil yang timbul retak-retak dan mulai berjatuhan serpihan kacanya. Lalu saya berpikir apa yang harus saya lakukan sedangkan lampu merah masih lama, dan tidak ada satu orang pun yang menolong kami. Dan sempat beliau memukul kaca depan mobil kami,akhirnya saya berteriak TUHAN YESUS dan langsung masukkin gigi mundur. Tiba-tiba mobil saya nabrak mobil di belakang dan Pemuda tersebut meninggal kan mobil kami begitu saja. Akhirnya setelah mundur, saya mengambil jalan sebelah kanan. Lalu mobil belakang saya mengklakson mobilnya agar minta pertanggung jawaban saya. Tapi setelah melihat kaca depan mobil hancur,beliau hanya mengangkat tangannya (seolah –olah memberitahu it’s oke). Karena saat itu saya shock dan tidak berani turun karena pemuda itu belum jauh meninggalkan mobil kami.
Dan lampu hijau menyala, saya langsung pulang ke rumah. Dan saya hanya bisa berdoa mengucap syukur sepanjang perjalanan dan di rumah. Dan anehnya saya tidak sakit hati, tidak kesal dengan pemuda tsb. Dan saya berdoa Tuhan mau mengampuni dan menjamah hati Pemuda itu. Dan saya percaya segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik untuk kehidupan saya.
Saya tak bisa membayangkan jika saya tidak menyebut nama Tuhan Yesus, mungkin ada beberapa kejadian :
1. Kaca sebelah kiri depan sudah di hantam oleh pemuda tsb untuk mengambil handphone sepupu saya.
2. Mobil di belakang saya menuntut ganti rugi

Akhirnya saya membawa mobil tsb untuk claim asuransi.
Dengan kejadian ini, Tuhan Yesus berkarya untuk kehidupan aku.

Thank you Lord.

God Bless You.

10 MENIT DARI TUHAN YANG MENYELAMATKANKU




10 menit dari Tuhan yang menyelamatkanku


parfum uda merupakan kebutuhan utama dalam berpenampilan dalam beraktifitas maka itu pasar penjualannya sangat terbuka untuk semua kalangan umur. segra gabung bersama kami membuka agen parfum di kota anda. harga suplayer 150.000. harga pasar 250.000 sampai 600.000. original.... dapatkan hadiah langsung 1 buah laptop. pengiriman gratis ke kota anda. promo ini berlaku hanya bulan ini. ingat: orang sukses adalah orang yang berani mencoba. hubungi kami di: 082143568999. alamat: ketintang madya 66 surabaya.

saya hari ini benar-benar beruntung dan bersyukur kepada Tuhan atas keselamatan yang diberikan kepada saya, sehingga saya terhindar dari ledakan bom.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 08.05 WIB, dan saya menyempatkan diri untuk membayar listrik di PLN Cilangkap-CImanggis.

Saya lalu melanjutkan perjalanan dengan melewati Jl. TB Simatupang, ketika sampai di perempatan Ragunan, saya sempat ragu mau lewat mana, kemudian saya memutuskan untuk melewati Warung Buncit, Mampang, dan masuk ke Jl. HR Rasuna Said dengan harapan keadaan jalan yang tidak begitu macet.

Karena panas Jakarta yang sangat panas, saya menyempatkan diri untuk minum teh botol di sebuah warung di depan Sentra Mulia (Markas ANTEVE) atau persisnya di seberang Stadion Kuningan Brojonegoro dan Kedubes Australia. Saya biasanya menghabiskan teh botol yang saya beli, namun karena saya merasa sudah kesiangan (saya sempat melihat jam sekitar pukul 10 lewat 30 menit (jam digital saya kecepatan 10 menit-kebiasaan buruk biar tidak terlambat ke kantor), itu berarti jam 10:20. Selesai membayar, saya melanjutkan perjalanan ke kantor. Ketika saya belok ke kiri menuju Sudirman dengan melewati Hotel Regent dan Landmark, saya merasa ada suara ledakan, saya kira itu adalah ban meletus atau yang lainnya, saya tidak sempat berpikir bahwa itu adalah ledakan bom.

Ketika sampai di kantor, saya kemudian mendengar dari teman-teman, bahwa terjadi ledakan di Sentra Mulia...lha kan saya jadi bingung, lhawong tadi saya malah minum teh botol di depan sentra mulia... ternyata setelah itu saya tahu kabar bahwa yang ledakan di depan kedubes australi sekitar jam sebelasan... sambil tidak percaya, saya kemudian mencari info kepastian jam meladak..dan saya membuka detik.com yang tertera jam ledakan adalah sekitar 10.30. saya cuma diam...berpikir...ajaib karena saya masih bisa hidup...ternyata selisih 10 menit itu adalah sangat berharga...bayangkan kalau saya beristirahat terlalu lama...paling tidak...telinga saya bisa tuli karena ledakan.

Sekali lagi... Terima kasih kepada Tuhan...

Antonius KBY - Kementerian Kebudayaan dan Pariwisat RI.
anton@mudika.com
Kamis, 9.9.2004, jam 13:16

===================

Pondok Renungan, mengajak semua pembaca untuk meluangkan waktu 5 menit utk berdoa kepada para korban dan keluarganya, serta perawat, dokter, polisi serta sukarelawan dan keluarga mereka semua yang membantu menyelamatkan para korban. Serta juga berdoa untuk bangsa ini agar terhindar dari kejahatan, dan berhenti melakukan tindakan-tindakan yang merugikan, semoga kuasa Tuhan selalu beserta kita semua.

Selasa, 31 Januari 2012

DATANGLAH, MESKI KAU BERDUSTA


Datanglah, Meski Kau Berdusta

Anda yang tinggal di ibukota ini, mungkin juga pernah menjumpai dia. Berjalan dengan langkah hati-hati bagaikan orang yang baru saja sembuh setelah patah kaki, dengan kepala tertunduk. Wajahnya yang mirip Pandito Dorna dari dunia pewayangan, bukan mustahil bisa membangkitkan rasa sebal ketika kita melihatnya. Bicaranya pun sulit dipahami; sama sulitnya seperti mencoba mengerti orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
Sifatnya tidak bisa dibanggakan. Ia sangat cinta uang dan sekalipun berperawakan pendek, ia selalu membanggakan diri memunyai 3 orang istri! Malah (katanya), masih banyak lagi yang mengejar dia pada usia yang lebih setengah abad ini, kendati dia buta huruf.
Namanya singkat saja: Pak Amat.
Telah lebih 2 tahun aku tak jumpa dengannya, sejak berhenti bekerja di kantor swasta tempat ia menjadi pesuruh. Kami berjumpa di jalan ketika ia memanggil-manggil namaku. Ia merengek-rengek agar diberikan pekerjaan apa saja karena ia sekarang menganggur. Tidak dijelaskannya apakah dia diberhentikan atau minta berhenti. Karena aku memang butuh bantuannya untuk mengurusi beberapa surat pribadi, kusuruh dia datang ke rumah.
Ternyata, sifat jeleknya yang dulu sudah terkenal di kantor, muncul lagi. Ia punya dua kebiasaan yang sangat kubenci: pembohong dan cinta uang.
Begitu dia kembali menyelesaikan tugas mengantar surat, dia sudah berbohong. Kebohongannya sama juga seperti yang dulu selalu dilakukannya di kantor apabila diberi "tugas luar". Dia mengatakan bahwa uang kembalian bis dicopet orang. Padahal karena tak ada uang kecil, sewaktu pergi terpaksa kuserahkan Rp. 1.000,00 [pada tahun ketika kesaksian ini ditulis, Rp 1.000,00 merupakan jumlah uang yang cukup besar, Red.].
Dengan muka masam, kusuruh dia pulang. Kuberikan sekadar honor, dan kutambahkan, "Jangan datang-datang lagi, Pak Amat. Saya sering tidak di rumah." Ia tak berani menatap mataku ketika pamit.
Dan sekarang, baru seminggu kemudian, ia sudah muncul lagi. Begitu melangkah masuk ke dalam rumahku, dari mulutnya sudah terlontar kebohongan lagi. Juga kebohongan yang sama, bahwa anaknya tadi malam mati.
Aku tidak menanggapi berita ini karena dulu pun saat masih di kantor, setiap 2 atau 3 bulan ada saja yang dikabarkannya mati. Nenek, kakek, keponakan, istri, anak, cucu, dan entah apalagi -- sekadar mengharapkan "uang sumbangan". Rasa sebalku semakin menjadi.
"Pulang saja, Pak Amat. Saya tidak punya sesuatu buat Pak Amat kerjakan, dan kebetulan saya sedang tidak punya uang."
"Tidak apa-apa. Biar saya cuci-cuci saja. Soal uang, tidak usah sebut; saya mengerti."
"Omong kosong!" cetusku dalam hati.
Selama beberapa jam berikutnya, Pak Amat sibuk membersihkan seluruh rumah, termasuk piring-piring dan pakaian. Aku pasif saja, namun hatiku cukup gelisah: berapa yang nanti diharapkannya dari padaku? Padahal uangku benar-benar tinggal sedikit.
Akhirnya, ia pun pamit, dan aku tersipu-sipu cuma bisa menyodorkan uang Rp 150,00 padanya. Air mukanya tidak berubah ketika ia melangkah ke jalan.
Aku lega. Pikirku, mungkin sekarang dia akan jera datang lagi. Aku pun bersiap-siap pergi untuk menagih hutang teman yang sudah dijanjikan akan dibayarnya.
Uang yang tinggal Rp 200,00. Pas untuk mencapai tujuanku dengan naik bis, disambung naik becak nanti.
Bis sedang melaju di jalan, ketika kulihat Pak Amat berjalan terseok-seok. Hatiku tersentuh sampai ke relung yang paling dalam.
"Ya Tuhan," pikirku tersengat penyesalan, "Mengapa tidak digunakannya uang pemberianku tadi untuk naik bis? Haruskah ia berjalan kaki di tengah hujan ini sampai ke tempat tinggalnya? Begitu berharganya nilai Rp 150,00 itu? Kalau begitu, wajiblah aku menolong sesamaku yang keadaannya lebih menderita daripada aku sendiri, sekalipun ia pembohong atau penipu. Mungkin cuma aku inilah yang masih mau menerima kedatangannya."
Ya, datanglah Pak Amat, karena demi Yesus, aku takkan menyuruhmu pulang lagi.

KISA NYATA PERTOBATAN. NARKOBA MEMBELUNGGU HIDUPKU.

Narkoba Membelenggu Hidupku

"Aku akan pergi!" Pemuda itu berteriak sambil membanting pintu kamar Melina. Dengan sisa suaranya, Melina, sambil menangis memanggil sang pemuda. Namun, pemuda itu telah menghilang dan Melina merasa dunianya sudah hancur saat itu. Hidupnya telah berakhir.
Waktu berjalan begitu cepatnya. Tahun 1976, seorang bayi perempuan lahir dan dinamai Melina. Ia lahir dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Ketika berusia 5 tahun, ayahnya meninggal dunia dan setahun kemudian, ibunya meninggalkan dia untuk bekerja di Malaysia. Melina kecil terpaksa dititipkan pada tantenya.
Hampir setiap hari Melina mendengar hardikan dari tantenya, "Kamu harus rajin bekerja! Jangan malas! Jangan bermain terus! Kamu harus bekerja! Ayo ngepel, setelah itu langsung cuci piring!"
Melina tidak bisa mengelak. Hari demi hari dia lalui dengan pekerjaan rumah yang menumpuk untuk diselesaikan. Terkadang, kerinduan akan kehadiran sang mama memenuhi hatinya, membuatnya merasa begitu pilu bila melihat teman-teman sebayanya menikmati kasih sayang dari orang tua mereka, namun sang mama tidak kunjung datang. Penantian itu sia-sia.
Sebelas tahun berlalu sejak kepergian sang mama ke Malaysia, Melina kini sudah berumur 16 tahun dan baru saja lulus SMP. Melina kemudian melanjutkan sekolahnya ke SMEA dan salah seorang pamannya bersedia membantu membiayai hidupnya. Melina kemudian kos di daerah Cawang, Jakarta, berdekatan dengan lokasi sekolahnya. Berpisah dari sang tante telah memberikan Melina kebebasan karena dia tidak lagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang selama bertahun-tahun begitu berat dia rasakan. Melina juga bebas dari segala omelan dan hardikan yang hampir setiap hari dia dengar. Kebebasan yang seperti ini yang dia impikan selama bertahun-tahun. Melina merasa siap untuk merenda masa depannya yang cerah.
Namun ada satu hal yang tidak dia bisa pungkiri. Jauh dalam dirinya ada kerinduan yang dalam akan kasih sayang. Papanya yang pergi pada usianya yang masih sangat belia, membuatnya rindu akan figur seorang pria yang mampu memberinya perhatian dan rasa aman. Sementara kepergian yang mama yang begitu lama, membuatnya kehausan akan kelembutan kasih sayang. Hari-hari sekolah yang begitu menyenangkan, kebebasan yang tiba-tiba dia dapatkan setelah bertahun-tahun terkungkung membuat Melina terlena. Suatu hari dia berkenalan dengan seorang pria. Di matanya, pria ini begitu memesona dan baik. "Dia adalah pria idaman. Dia begitu baik dan jujur. Mau menerima saya apa adanya, walau dia bisa mencari tahu siapa sebenarnya saya, bagaimana latar belakang saya, tapi pria ini mau menerima apa adanya," batin Melina.
Bagi Melina kehadiran pria ini membuat hidupnya terasa lengkap. Setelah bertahun-tahun dia menjalani hidupnya dalam sepi dan tekanan, kini dia merasakan kegembiraan. Ada teman untuk berbagi cerita. Ada seseorang yang menjaga dirinya. Ada pria untuk berbagi kasih. Pria itu sudah datang dan sungguh membuatnya lengkap. Cintanya semakin bertambah saat demi saat. Baginya inilah puncak dunia. Inilah hidup yang sebenarnya. Sebenarnya, ini adalah saat di mana Melina berada di tepi jurang kehancuran. Jurang yang sangat dalam dan Melina tidak menyadarinya.
Rasa rindu sekaligus pedih karena kepergian sang mama dan rasa kehilangan karena ditinggalkan papa kini mulai tertinggal jauh di belakang. Melina memberikan seluruh hati dan jiwanya pada sang pria pujaannya. Hubungan mereka semakin erat sampai satu ketika Melina menyerahkan kehormatannya pada sang pria. "Setelah kami melakukan perbuatan terlarang, dia begitu baik kepada saya. Dia seperti malaikat bagi saya dan kasih sayang pun saya dapatkan dari dia. Citra papa dan mama saya dapatkan dari dia. Dia begitu sayang terhadap saya," kenang Melina.
Pria yang dipuja Melina bukanlah pria yang baik sebenarnya. Lambat namun pasti, sang pacar mulai membawa Melina kepada hal-hal yang buruk. Ganja adalah hal pertama yang mulai dikenalkan pada Melina.
"Ayo pakai. Ini enak sekali. Jangan takut. Ini bukan apa-apa kok." Begitu selalu sang pacar meyakinkan Melina. Walaupun agak ragu, akhirnya mencoba ganja dan dia mulai menikmatinya. Kehidupan yang bebas yang seperti ini dijalani Melina. Ia menjalani kehidupan bebasnya dengan diam-diam. Sang paman tidak pernah mengetahui keadaan Melina yang sebenarnya. Di mata pamannya, Melina adalah gadis baik-baik yang rajin ke sekolah.
Sementara itu ganja tidak lagi memberikan kepuasan bagi Melina dan pacarnya, kini mereka mulai mencoba untuk memakai ekstasi. Diskotik yang sebelumnya tidak pernah didatangi Melina, kini menjadi tempat untuk menghabiskan malam bersama sang pacar. "Saya bisa merasakan apa yang tidak pernah saya rasakan. Saya bisa tidak memikirkan keluarga. Saya bisa enjoy!" kata Melina. Melina mulai mengambil jarak dengan paman dan juga dengan adik-adiknya. Melina tahu kalau hubungannya dengan sang pacar tidak akan direstui keluarga. Obat-obatan membuatnya berani untuk bersikap cuek terhadap keluarga. Baginya yang penting dia bisa bersenang-senang dengan sang pacar. Kebahagiaan seperti inilah yang lama dia rindukan. Sekarang ketika semuanya sudah diperoleh, mengapa harus dilepaskan? Melina tidak menyadari bahwa dirinya sudah jatuh semakin dalam ke jurang kehancuran. "Saya tidak merasa bersalah. Yang saya rasakan adalah kasih sayang dan perlindungan dari pacar saya. Itu yang selalu saya impikan," Melina melanjutkan. Terkadang, kerinduan akan kehadiran sang mama menyeruak dalam batinnya. Namun, segera ditepis oleh kenikmatan hidup yang saat itu dijalaninya. "Apa pun narkoba yang dia berikan, saya terima dengan senang. Terasa enak sekali dan membuat saya tidak lagi dibebani pikiran tentang keluarga," tutur Melina.
Namun, walau Melina begitu baik menutupi jejak hubungannya dengan sang pacar, pamannya akhirnya dapat mencium rahasia Melina ini. "Paman sudah bilang kalau kami tidak bisa menerima hubungan kamu dengan laki-laki itu! Sekarang juga kamu harus putus hubungan dengan Dia!" Hardik sang paman. Melina kemudian mengambil langkah nekat. Melina kabur dari rumah kos dan hidup bersama dengan pacarnya. Saat itu kecanduan Melina akan narkoba sudah tinggi. "Bersama pacar saya memakai narkoba. Saya pakai ekstasi dan ganja dengan dosis yang semakin tinggi. Sering saya kesakitan karena ketagihan narkoba yang tidak terpenuhi. Saya dan pacar mulai sering ribut," kata Melina. Ia mulai melihat kepribadian pacarnya yang sebenarnya. Pria yang dulu disangkanya begitu baik di matanya mulai terlihat keburukan sifatnya.
Pada tahun itu juga mama Melina yang sudah belasan tahun tinggal di Malaysia pulang ke Indonesia dan mencari Melina. Melina kemudian pulang meninggalkan pacarnya dan tinggal bersama sang mama. Kepada mamanya, Melina mengakui keadaan dirinya saat ini. "Saat saya mengakui kalau saya sudah tidak perawan lagi dan sangat kecanduan narkoba, mama sangat sedih. Mama bisa mengerti keadaan saya dan dia bilang supaya saya tidak lagi kembali ke pacar saya," lanjut Melina. Ia memang tidak kembali pada sang pacar, tetapi dia tidak bisa melepaskan diri dari narkoba. Setiap hari Melina masih memakai narkoba. Rasa sakit yang menyerangnya setiap kali dia ketagihan narkoba, tidak dapat dia tahan dan selalu membawanya kembali untuk memakai narkoba.
Suatu hari Melina kabur lagi dari rumah sang mama dan pergi menemui pacar lamanya. Mereka kembali menjalin hubungan. Pacar Melina yang tahu kalau Melina sudah sangat kecanduan narkoba memperlakukan Melina dengan seenak hatinya. Melina merasakan kepedihan dan sakit hati atas perlakuan pacarnya ini, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Melina ingin meninggalkan pacarnya itu, tapi ketergantungannya pada narkoba menahannya untuk tidak meninggalkan laki-laki itu. Padahal secara fisik keadaan Melina sungguh menderita. "Saya mengalami kesakitan yang luar biasa. Bahkan kalau mau muntah juga sakit! Sungguh sakit sekali!" tuturnya. Melina tahu kalau dia ingin bebas dari narkoba, dia harus meninggalkan laki-laki ini karena setiap kali bertemu, mereka pasti akan memakai narkoba. Namun, Melina membutuhkan kasih sayang dan Melina mendapatkannya dari pacarnya.
Setiap hari Melina hidup di alam maya. Ketagihan demi ketagihan terus menerus datang menyerang Melina. Pikiran dan mental Melina sudah hancur. Pikirannya terpusat pada narkoba. Setiap hari harus memakai narkoba. Pacarnya terus mengintimidasi Melina. "Tanpa saya kamu bukan apa-apa! Kamu membutuhkan saya!" jelas pacarnya. Melina tidak lagi bisa berpikir jernih. Dia ingin meninggalkan semuanya, tetapi tidak bisa.
Melina memang jarang berada dalam keadaan sadar sepenuhnya terhadap dirinya. Namun, kala kesadaran itu muncul, pertanyaan yang ada di benaknya adalah bagaimana kalau dia mati? Jauh di dalam hatinya ada kerinduan. Ada kekosongan akan kasih, namun tidak tahu harus berbuat apa. "Tuhan ... saya mau lepas dari obat-obatan ini. Saya mau lepas ... tapi tidak bisa. Tolonglah saya Tuhan," ratap Melina saat itu.
Tuhan sudah menantikan Melina begitu lama untuk kembali kepada-Nya. Tuhan selalu mendengar jeritan hati setiap anak-anak-Nya. Tuhan hadir dalam kehidupan Melina. Pada suatu hari, ketika itu Melina baru saja ditinggalkan oleh pacarnya. Sang pacar mengancam untuk meninggalkan Melina, dan biasanya pada saat seperti itu Melina menjadi histeris karena ketakutan bila sang pacar benar-benar meninggalkannya. Namun siang itu, Melina yang sudah merasa lelah dengan hidupnya selama ini, datang kepada Tuhan. Melina membuka hatinya bagi Tuhan Yesus. Siang itu satu hal yang indah terjadi. Tuhan Yesus hadir dalam kehidupan Melina, memberikan kepada Melina kehidupan yang baru. Rasa ketakutan digantikan oleh kelegaan. Rasa bersalah sirna dihapuskan damai sejahtera. Tuhan sudah mengampuni dosanya. Melina sungguh takjub. Dia merasakan bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh nyata. "Tuhan Yesus benar-benar ada dan saat itu Tuhan memberi kekuatan kepada saya. Kerinduan saya kepada pacar saya hilang. Nafsu kedagingan dan ketagihan terhadap narkoba hilang lenyap. Tidak ada lagi tekanan-tekanan masa lalu yang menekan saya. Bahkan ancaman-ancaman dari pacar saya bahwa hanya dengan dia saja saya bahagia ... hilang!" kenang Melina. Satu hal yang luar biasa. Karena sudah bertahun-tahun Melina terikat oleh narkoba dan kehidupan yang bebas, dia sendiri merasa tidak akan bebas dan mulai dihantui oleh rasa putus asa, namun Tuhan memulihkan Melina mengampuni dengan seketika! Sungguh ajaib kuasa Tuhan Yesus.
Kasih yang selama ini Melina cari sudah dia temukan di dalam Tuhan Yesus. Jiwanya yang selama bertahun-tahun lelah mencari kasih dan damai yang sempat terisi oleh kasih sang pacar dan narkoba, kini telah menemukan perhentian. Tuhan Yesus telah mengisi kekosongan dalam jiwanya.

Melina kemudian kembali kepada mama dan adik-adiknya. Melina meninggalkan kehidupannya yang lama dan menjalani kehidupan yang baru. Melina kini bekerja pada sebuah perusahaan di Tangerang. Masa lalu yang pahit, yang membentuk Melina remaja menjadi pribadi yang haus kasih sayang dan akhirnya membawanya pada narkoba, kini telah lenyap. Masa lalu itu kini tidak lagi menghantui jiwanya yang bebas merdeka dan penuh kasih di dalam Tuhan Yesus. Bersama Tuhan Yesus Melina menyongsong hari-harinya yang penuh harapan di masa depan.

Jumat, 20 Januari 2012

WAITING FOR SECOND CHANCE

Waiting For Second Chance

Ibrani 12:17
Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 9; Matius 9; Kejadian 17-18

Sebuah pepatah China kuno berbunyi, "You cannot jump into the same water". Ini berbicara mengenai waktu yang terus berjalan sebagaimana aliran sungai, jadi ketika kita meloncat ke dalamnya tidak mungkin diulangi lagi dengan air sungai yang sama, meskipun tampaknya sama tetapi air yang melaluinya telah berbeda, air yang sebelumnya telah mengalir jauh ketika kita melakukan lompatan kedua. Demikian juga dengan waktu dan kesempatan dalam kehidupan kita. Ketika kita melewatkan satu kesempatan, yang satu itu tidak akan pernah kembali. Waktu atau kesempatan yang telah lewat tidak mungkin kembali, yang ada adalah waktu dan kesempatan yang baru dan berbeda. Tetapi apakah ada suatu jaminan jika kesempatan yang baru itu (beberapa orang senang menyebutnya sebagai Second Chance) pasti akan ada lagi?

Sebagai orang yang bergerak di market place tentulah mengerti prinsip ini, tidak semua hal ada babak duanya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin diulang. Pilihan yang sudah diambil menyisakan dampak atau implikasinya, tanpa kepastian adanya kesempatan lain untuk memperbaiki kesalahan atau kecerobohan dari apa yang telah dibuat, ataupun untuk melakukan sesuatu yang terlewatkan sebelumnya.

Jadi bagaimana dengan kinerja kita sekarang setelah menyadari prinsip ini? Masihkah kita membuang-buang waktu dan menggunakannya secara asal-asalan? Ataukah ingin berkarya maksimal? Tapi ingatlah, apapun yang kita lakukan dengan waktu ini akan kita pertanggungjawabkan pada Tuhan.

Lebih baik lakukan yang benar pada kali pertama daripada berharap memperbaikinya di lain hari.

STATUS QUO

Status Quo

Matius 7:11
Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 17; Matius 17; Kejadian 33-34

Dalam film High School Musical produksi Disney dikisahkan seorang kapten basket yang ingin mencoba ikut audisi drama musikal di sekolahnya. Semua temannya tidak setuju, "Buat apa mencoba sesuatu yang baru? Sudahlah, kamu main basket saja. Stick to the status quo." Celakanya prinsip ini bukan hanya dianut siswa SMA dalam film, tapi juga oleh para profesional Kristen yang malas keluar dari zona nyaman.

Namun hal ini tidak berlaku pada Akhsa, anak perempuan Kaleb, pahlawan iman Israel. Ketika ayahnya memberikan hadiah sebidang tanah gersang pada Otniel, suaminya, Akhsa tidak lantas menjadi puas. Tanah gersang baru bisa diolah dan menghasilkan jika ada air. Maka Akhsa meminta hadiah ganda pada ayahnya: "Telah kau berikan kepadaku tanah yang gersang, berikanlah juga kepadaku mata air" (Yosua 15:19). Ingat, ini terjadi pada jaman di mana perempuan Israel sama sekali tidak mempunyai hak untuk memiliki tanah, tapi Akhsa berani mengambil resiko dan ia akhirnya memperoleh dua mata air sekaligus.

Jika pekerjaan Anda terasa bagaikan "tanah gersang", sekarang saatnya Anda minta "mata air" dari Tuhan. Hal ini pasti menuntut Anda keluar dari status quo. Mungkin Anda terpaksa mengubah perspektif, sikap atau malah tempat kerja Anda. Tapi hanya dengan begitu maka Anda dapat mengubah pekerjaan Anda yang "gersang" menjadi "ladang subur" yang penuh berkat.